( قرأ رسول الله صلى الله عليه وسلم" هل
جزاء الإحسان إلا الإحسان" وقال: هل تدرون ما قال ربكم؟ قالوا: الله ورسوله
أعلم. قال: يقول: هل جزاء من أنعمت عليه بالتوحيد إلا الجنة ) ذكره ابن كثير في
تفسير الرحمن /60. ( ضعيف جداً ) في اسناده" بشر بن الحسين" الأصبهاني
صاحب الزبير بن عدى. قال البخاري: فيه نظر. وقال الدراقطنى: متروك. وقال أبو حاتم:
يكذب على الزبير.
Kamis, 14 Februari 2013
مجموعة أحاديث قدسية
بسم الله الرحمن الرحيم
هذه مجموعة أحاديث قدسية جمعها
الشيخ أبو عبدالرحمن عصام الدين الصابطي في ثلاث مجلدات وذكر الحديث الصحيح من
الضعيف من الحسن وبعض الأحاديث توقف فيها.
كذلك فصّل في بعض الأحاديث من
شرحها والتعليق عليها، وهنا فقط نطرح ملخص الأحاديث الضعيفة والموضوعة "جامع الأحاديث القدسية" موسوعة جامعة..
المجلد الأول /
7 ( إن بين يدى الرحمن للوحاً فيه
ثلاثمائة وخمس عشرة شريعة، يقول الرحمن: وعزتى وجلالى لا يأتينى عبد من عبادى لا
يشرك بي شيئاً فيه واحدة منكنّ إلا دخل الجنة ) ذكره ابن حجر في المطالب العالية
جـ3/2864. ( ضعيف )
8 ( إن لله عز وجل لوحاً من زبرجدة
خضراء تحت العرش كتب فيه: أنا الله لا إله إلا أنا أرحم الراحمين خلقت بضعة عشر
وثلاثمائة خلق من جاء بخلق منها مع شهادة لا إله إلا الله أدخل الجنة ) ذكره
الهيثمي في مجمع الزوائد جـ1 ص36. ( ضعيف )
Selasa, 21 Agustus 2012
Hadis Tentang Keramat Para Wali dan Doa dengan Wasilah Amal Shaleh
Rasulullah saw bersabda: “Telah
berangkat tiga orang, dari orang-orang (Islam) sebelum kamu semua, mereka
mengungsi untuk menginap pada sebuah goa. Mereka bertiga memasuki goa dan
kemudian runtuh batu-batu besar dari atas gunung hingga menutupi pintu goa di
mana mereka berada. Mereka berkata: “Demi Allah, Allah tidak akan menyelamatkan
dan melepaskan kamu semua dari dalam goa ini keculai kamu berdoa kepada Allah
dengan wasilah amal-amal saleh kamu.” Berkata seorang lelaki di antara mereka,
“Sungguh aku memiliki ibu dan bapa yang sudah renta, dan aku belum pernah memberi
minum susu perahan sore hari padanya sama sekali.
Pada suatu hari, aku sudah
mempersiapkan diri untuk berangkat menggembala dan aku belum pernah pulang ke
rumah kepada ibu dan bapa hingga mereke berdua tertidur. Kemudian sore hari aku
perahkan susu buat mereka berdua, aku datangi keduanya dengan membawa susu perahan dan aku
temukan keduan sudah teridur, maka aku merasa kasihan untuk membangunkanya dan
aku merasa sungkan untuk memberikan minuma susu perahan sore hari padanya dalam
keadaan sudah tertidur. Kemudian aku pun tidur sambil memegangi wadah (gelas)
susu guna menunggu mereka berdua bangun dari tidurnya hingga subuh datang.
Kemudian keduanya terbanguan dan meminum susu perahan yang dihidangkan sore
hari. Ya Allah, jika apa yang aku perbuat itu adalah hanya untuk mencari
keridhaan-Mu, maka bukakanlah pintu goa dari kami apa yang ada pada kami.” Kemudian
bergeserlah batu yang menutupi pintu goa, hanya saja mereka belum mampu untuk
keluar dari dalam goa.
Bersabda lagi Rasulullah saw: “Berkata
yang lain, “Ya Allah, aku memiliki perempuan anak paman dan aku begitu
mencintainya, aku merayunya untuk menyerahkan dirinya, maka aku menahan diri
hingga aku memberikanya seratus miskal. Kemudian
aku mendatanginya pada paruh tahun-tahun yang lain dan aku telah behasil mendapatkan seratus miskal dan dia mempersilahkan dirinya untukku, saat
aku sampai pada sesuatu yang ada antara kedua paha kakinya, dia berkata, “Bertakwalah
kepada Allah dan janganlah kamu mengembani cincin kecuali dengan haknya.”
Kemudian aku bangkit dari sisinya dan aku tinggalkan emas (seratus miskal)
yang aku berikan padanya. Ya Allah, jika yang aku perbuat itu karena
mencari keridhaan-Mu, maka keluarkanlah kami dari keadaan ini.” Kemudian batu bergeser lagi, hanya mereka belum bisa untuk keluar
dari dalam goa.
Rasulullah saw bersabda lagi: “Berkata
lelaki yang ketiga, “Ya Allah, sungguh aku mempekerjakan beberapa buruh dan aku
berikan upah mereka semua selain salah seorang lelaki dari mereka yang
meninggalkan bayaranya dan pergi begitu saja. Upahnya (aku kelola) berbuah
hingga banyak berlimpah dan menjadi harta kekayaan. Kemudian pada suatu masa,
lelaki itu mendatangi aku dan berkata, “Wahai Abdullah, bayarkan upah kerjaku.”
Aku menjawab, “Seluruh
yang kamu lihat adalah upah kerjamu hingaa unta, kambing, sapi, dan budak.”
Lelaki itu berkata, “Wahai Abdullah, janganlah kamu menertawakan aku.” Aku
menjawab padanya, “Aku tidak sedang menertawakanmu,” Kemudian lelaki itu
mengambil semuanya itu dan menggiringnya hingga tidak meninggalkan sisa sedikit
pun. Ya Allah, sungguh jika apa yang aku kerjakan itu karena mencari keridhaan-Mu,
maka bukakanlah dari kami apa yang terjadi pada kami.”
Kemudian batu penutup itu bergeser dan
mereka bertiga keluar dengan berjalan. Hadis ini shahih dan telah disepakati
atas kesahihanya.[1]
Sabtu, 21 April 2012
Klasifikasi hadits
Klasifikasi hadits
Hadits dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa kriteria yakni bermulanya ujung sanad, keutuhan rantai sanad, jumlah penutur (periwayat) serta tingkat keaslian hadits (dapat diterima atau tidaknya hadits bersangkutan)Berdasarkan ujung sanad
Berdasarkan klasifikasi ini hadits dibagi menjadi 3 golongan yakni marfu' (terangkat), mauquf (terhenti) dan maqtu' :- Hadits Marfu' adalah hadits yang sanadnya berujung langsung pada Nabi Muhammad SAW (contoh: hadits sebelumnya)
- Hadits Mauquf adalah hadits yang sanadnya terhenti pada para sahabat nabi tanpa ada tanda-tanda baik secara perkataan maupun perbuatan yang menunjukkan derajat marfu'. Contoh: Al Bukhari dalam kitab Al-Fara'id (hukum waris) menyampaikan bahwa Abu Bakar, Ibnu Abbas dan Ibnu Al-Zubair mengatakan: "Kakek adalah (diperlakukan seperti) ayah". Namun jika ekspresi yang digunakan sahabat seperti "Kami diperintahkan..", "Kami dilarang untuk...", "Kami terbiasa... jika sedang bersama rasulullah" maka derajat hadits tersebut tidak lagi mauquf melainkan setara dengan marfu'.
- Hadits Maqtu' adalah hadits yang sanadnya berujung pada para Tabi'in (penerus). Contoh hadits ini adalah: Imam Muslim meriwayatkan dalam pembukaan sahihnya bahwa Ibnu Sirin mengatakan: "Pengetahuan ini (hadits) adalah agama, maka berhati-hatilah kamu darimana kamu mengambil agamamu".
Berdasarkan keutuhan rantai/lapisan sanad
Berdasarkan klasifikasi ini hadits terbagi menjadi beberapa golongan yakni Musnad, Munqati', Mu'allaq, Mu'dal dan Mursal. Keutuhan rantai sanad maksudnya ialah setiap penutur pada tiap tingkatan dimungkinkan secara waktu dan kondisi untuk mendengar dari penutur di atasnya.- Ilustrasi sanad : Pencatat Hadits > penutur 4> penutur 3 > penutur 2 (tabi'in) > penutur 1(Para sahabat) > Rasulullah SAW
- Hadits Musnad, sebuah hadits tergolong musnad apabila urutan sanad yang dimiliki hadits tersebut tidak terpotong pada bagian tertentu. Yakni urutan penutur memungkinkan terjadinya transfer hadits berdasarkan waktu dan kondisi.
- Hadits Mursal. Bila penutur 1 tidak dijumpai atau dengan kata lain seorang tabi'in menisbatkan langsung kepada Rasulullah SAW (contoh: seorang tabi'in (penutur2) mengatakan "Rasulullah berkata" tanpa ia menjelaskan adanya sahabat yang menuturkan kepadanya).
- Hadits Munqati' . Bila sanad putus pada salah satu penutur yakni penutur 4 atau 3
- Hadits Mu'dal bila sanad terputus pada dua generasi penutur berturut-turut.
- Hadits Mu'allaq bila sanad terputus pada penutur 4 hingga penutur 1 (Contoh: "Seorang pencatat hadits mengatakan, telah sampai kepadaku bahwa Rasulullah mengatakan...." tanpa ia menjelaskan sanad antara dirinya hingga Rasulullah).
Berdasarkan jumlah penutur
Jumlah penutur yang dimaksud adalah jumlah penutur dalam tiap tingkatan dari sanad, atau ketersediaan beberapa jalur berbeda yang menjadi sanad hadits tersebut. Berdasarkan klasifikasi ini hadits dibagi atas hadits Mutawatir dan hadits Ahad.- Hadits mutawatir, adalah hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang dari beberapa sanad dan tidak terdapat kemungkinan bahwa mereka semua sepakat untuk berdusta bersama akan hal itu. Jadi hadits mutawatir memiliki beberapa sanad dan jumlah penutur pada tiap lapisan (thaqabah) berimbang. Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah sanad minimum hadits mutawatir (sebagian menetapkan 20 dan 40 orang pada tiap lapisan sanad). Hadits mutawatir sendiri dapat dibedakan antara dua jenis yakni mutawatir lafzhy (redaksional sama pada tiap riwayat) dan ma'nawy (pada redaksional terdapat perbedaan namun makna sama pada tiap riwayat)
- Hadits ahad, hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang namun
tidak mencapai tingkatan mutawatir. Hadits ahad kemudian dibedakan atas
tiga jenis antara lain :
- Gharib, bila hanya terdapat satu jalur sanad (pada salah satu lapisan terdapat hanya satu penutur, meski pada lapisan lain terdapat banyak penutur)
- Aziz, bila terdapat dua jalur sanad (dua penutur pada salah satu lapisan)
- Mashur, bila terdapat lebih dari dua jalur sanad (tiga atau lebih penutur pada salah satu lapisan) namun tidak mencapai derajat mutawatir.
Berdasarkan tingkat keaslian hadits
Kategorisasi tingkat keaslian hadits adalah klasifikasi yang paling penting dan merupakan kesimpulan terhadap tingkat penerimaan atau penolakan terhadap hadits tersebut. Tingkatan hadits pada klasifikasi ini terbagi menjadi 4 tingkat yakni shahih, hasan, da'if dan maudu'- Hadits Shahih, yakni tingkatan tertinggi penerimaan pada suatu hadits. Hadits shahih memenuhi persyaratan sebagai berikut:
- Sanadnya bersambung;
- Diriwayatkan oleh penutur/perawi yg adil, memiliki sifat istiqomah, berakhlak baik, tidak fasik, terjaga muruah(kehormatan)-nya, dan kuat ingatannya.
- Matannya tidak mengandung kejanggalan/bertentangan (syadz) serta tidak ada sebab tersembunyi atau tidak nyata yg mencacatkan hadits.
- Hadits Hasan, bila hadits yang tersebut sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh rawi yg adil namun tidak sempurna ingatannya, serta matannya tidak syadz serta cacat.
- Hadits Dhaif (lemah), ialah hadits yang sanadnya tidak bersambung (dapat berupa mursal, mu’allaq, mudallas, munqati’ atau mu’dal)dan diriwayatkan oleh orang yang tidak adil atau tidak kuat ingatannya, mengandung kejanggalan atau cacat.
- Hadits Maudu, bila hadits dicurigai palsu atau buatan karena dalam rantai sanadnya dijumpai penutur yang memiliki kemungkinan berdusta.
Jenis-jenis lain
Adapun beberapa jenis hadits lainnya yang tidak disebutkan dari klasifikasi di atas antara lain:- Hadits Matruk, yang berarti hadits yang ditinggalkan yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi saja dan perawi itu dituduh berdusta.
- Hadits Mungkar, yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi yang lemah yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang tepercaya/jujur.
- Hadits Mu'allal, artinya hadits yang dinilai sakit atau cacat yaitu hadits yang didalamnya terdapat cacat yang tersembunyi. Menurut Ibnu Hajar Al Atsqalani bahwa hadits Mu'allal ialah hadits yang nampaknya baik tetapi setelah diselidiki ternyata ada cacatnya. Hadits ini biasa juga disebut hadits Ma'lul (yang dicacati) dan disebut hadits Mu'tal (hadits sakit atau cacat)
- Hadits Mudlthorib, artinya hadits yang kacau yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi dari beberapa sanad dengan matan (isi) kacau atau tidaksama dan kontradiksi dengan yang dikompromikan
- Hadits Maqlub, yakni hadits yang terbalik yaitu hadits yang diriwayatkan ileh perawi yang dalamnya tertukar dengan mendahulukan yang belakang atau sebaliknya baik berupa sanad (silsilah) maupun matan (isi)
- Hadits gholia, yaitu hadits yang terbalik sebagian lafalnya hingga pengertiannya berubah
- Hadits Mudraj, yaitu hadits yang mengalami penambahan isi oleh perawinya
- Hadits Syadz, hadits yang jarang yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi orang yang tepercaya yang bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan dari perawi-perawi yang lain.
- Hadits Mudallas, disebut juga hadits yang disembunyikan cacatnya karena diriwayatkan melalui sanad yang memberikan kesan seolah-olah tidak ada cacatnya, padahal sebenarnya ada, baik dalam sanad atau pada gurunya. Jadi, hadits Mudallas ini ialah hadits yang ditutup-tutupi kelemahan sanadnya.
Matan
Matan ialah redaksi dari hadits. Dari contoh sebelumnya maka matan hadits bersangkutan ialah:
- "Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga ia cinta untuk saudaranya apa yang ia cinta untuk dirinya sendiri"
- Ujung sanad sebagai sumber redaksi, apakah berujung pada Nabi Muhammad atau bukan,
- Matan hadits itu sendiri dalam hubungannya dengan hadits lain yang lebih kuat sanadnya (apakah ada yang melemahkan atau menguatkan) dan selanjutnya dengan ayat dalam Al Quran (apakah ada yang bertolak belakang).
Sanad
Sanad ialah rantai penutur/perawi (periwayat) hadits. Sanad terdiri
atas seluruh penutur mulai dari orang yang mencatat hadits tersebut
dalam bukunya (kitab hadits) hingga mencapai Rasulullah. Sanad,
memberikan gambaran keaslian suatu riwayat. Jika diambil dari contoh
sebelumnya maka sanad hadits bersangkutan adalah
Jadi yang perlu dicermati dalam memahami hadits terkait dengan sanadnya ialah :
sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Hadis
- Al-Bukhari > Musaddad > Yahya > Syu’bah > Qatadah > Anas > Nabi Muhammad SAW
Jadi yang perlu dicermati dalam memahami hadits terkait dengan sanadnya ialah :
- Keutuhan sanadnya
- Jumlahnya
- Perawi akhirnya
sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Hadis
Struktur hadits
Secara struktur hadits terdiri atas dua komponen utama yakni sanad/isnad (rantai penutur) dan matan (redaksi).
- Contoh:Musaddad mengabari bahwa Yahya sebagaimana diberitakan oleh Syu'bah, dari Qatadah dari Anas dari Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda: "Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga ia cinta untuk saudaranya apa yang ia cinta untuk dirinya sendiri" (hadits riwayat Bukhari)
- sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Hadis
Langganan:
Postingan (Atom)